Sultanews, Jakarta – Di tengah gelombang tekanan global yang diwarnai oleh eskalasi konflik, gejolak geopolitik, serta ancaman perlambatan ekonomi dunia, Presiden Prabowo Subianto menegaskan dengan tegas bahwa perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kokoh serta mencatatkan tren pertumbuhan yang kuat.
Pernyataan optimis tersebut disampaikan oleh Kepala Negara saat memaparkan Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan, di hadapan para anggota dewan dalam Rapat Paripurna DPR RI yang bertempat di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, pada Jumat (14/8/2026).
Menurut pemaparan Presiden, awal tahun 2026 dibuka dengan kondisi lanskap global yang sarat akan tantangan berat. Lonjakan harga energi akibat rantai pasok perang di berbagai kawasan, tingginya suku bunga global yang berpotensi terus merangkak naik, tekanan depresiasi terhadap nilai tukar mata uang di berbagai negara, hingga ketegangan geopolitik yang mendisrupsi perdagangan bebas dunia menjadi ujian nyata bagi banyak negara, tak terkecuali Indonesia.
“Kita memasuki tahun 2026 dalam keadaan dunia yang tidak menentu, yang tidak mudah. Harga energi di seluruh dunia meningkat karena perang, suku bunga global tinggi dan bisa naik, nilai tukar berbagai negara tertekan, dan ketegangan geopolitik mengganggu perdagangan dunia,” ujar Presiden Prabowo.
Kendati berada di tengah situasi eksternal yang penuh ketidakpastian tersebut, Presiden memastikan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap memiliki daya tahan yang luar biasa. Bahkan, catatan perekonomian pada semester pertama tahun 2026 berhasil menorehkan rekor sebagai pertumbuhan tertinggi dalam kurun waktu 13 tahun terakhir.
Tidak hanya itu, stabilitas indikator makroekonomi terpelihara dengan baik di mana tingkat inflasi tetap terkendali secara stabil, sementara denyut aktivitas ekonomi domestik terus bergerak di zona positif yang ditopang oleh kuatnya tingkat konsumsi masyarakat serta efektivitas berbagai instrumen perlindungan sosial pemerintah dalam menjaga daya beli rakyat.
Lebih lanjut, Presiden turut menjabarkan performa impresif Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Juli 2026 yang membukukan hasil positif. Tercatat, komponen pendapatan negara mengalami pertumbuhan sebesar 21,3 persen apabila dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sementara alokasi belanja negara meningkat sebesar 18,2 persen.
Arus belanja negara tersebut, imbuh Presiden, diarahkan secara terfokus untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat, mengakselerasi kualitas pelayanan publik, serta menstimulasi pergerakan roda ekonomi nasional agar terus berekspansi di tengah terpaan tantangan global.
Menariknya, ekspansi belanja negara tersebut tetap dikawal ketat dengan prinsip kehati-hatian melalui penerapan disiplin fiskal yang tinggi. Terbukti, hingga penghujung Juli 2026, rasio defisit APBN berhasil ditekan dan tercatat hanya berada di level 0,91 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Kita tidak memilih antara pertumbuhan dan kehati-hatian. Kita memilih kedua-duanya. Kita tidak memilih antara membantu rakyat dan menjaga APBN. Kita melakukan keduanya,” tegas Presiden Prabowo.
Capaian makroekonomi yang solid ini turut mendongkrak tingkat kepercayaan dunia internasional terhadap kredibilitas perekonomian Indonesia, yang terefleksi dari hasil penilaian lembaga pemeringkat kredit global. Presiden mengungkapkan bahwa lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) tepat pada 13 Juli 2026 kembali mengaffirma atau mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil, yang menempatkan Indonesia tetap berada dalam kategori investment grade atau layak investasi.
Berdasarkan penilaian S&P, Indonesia dinilai memiliki prospek pertumbuhan ekonomi yang kokoh, penerapan bauran kebijakan makroekonomi yang senantiasa berhati-hati (prudent), serta kondisi beban utang yang relatif sehat dan berkelanjutan jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang berada di kategori setara.
“S&P menilai Indonesia memiliki prospek pertumbuhan ekonomi yang kokoh, kebijakan makroekonomi yang secara umum berhati-hati, serta beban utang yang relatif prudent dan sustainable dibandingkan negara-negara setara,” ungkap Presiden.
Pengakuan global juga datang dari kancah Asia, di mana lembaga pemeringkat asal Tiongkok, China Lianhe Rating, menganugerahkan peringkat tertinggi AAA/Stable kepada Indonesia untuk instrumen penerbitan Panda Bonds. Peringkat paripurna ini merefleksikan kuatnya fundamental ekonomi domestik Indonesia.
Lembaga pemeringkat tersebut menilai bahwa kerangka kebijakan yang dieksekusi oleh pemerintah berjalan secara efektif, tingkat inflasi terkendali dengan baik, serta struktur ketahanan ekonomi Indonesia terbukti tangguh dalam meredam pelbagai guncangan eksternal.
Bagi Presiden Prabowo, pelbagai apresiasi dan pengakuan global tersebut bukanlah sekadar trofi pencapaian administratif semata, melainkan sebuah pengingat bahwa kepercayaan dunia internasional hanya dapat diraih melalui kerja-kerja nyata serta konsistensi kebijakan yang teruji.
“Dunia tidak hanya menilai apa yang kita umumkan. Dunia menilai apa yang benar-benar kita laksanakan,” pungkas Presiden.
Melalui momentum pertumbuhan ekonomi yang tetap resilien, stabilitas inflasi yang terjaga, serta apresiasi kepercayaan investor global yang terus berlanjut, pemerintah menaruh optimisme tinggi bahwa Indonesia akan mampu menavigasi pelbagai tantangan global sekaligus mengamankan trajektori momentum pembangunan demi mencapai target pertumbuhan yang lebih tinggi di masa mendatang. (chy)





