Bencana Karhutla Gambut Capai 72 Ribu Hektare Kepala BNPB Pastikan Mayoritas Titik Api...

Karhutla Gambut Capai 72 Ribu Hektare Kepala BNPB Pastikan Mayoritas Titik Api Berhasil Dipadamkan

2
SHARE

Sultanews, Jakarta – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut rupanya masih menjadi tantangan berat bagi Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya 72 ribu hektare lahan gambut di berbagai wilayah telah hangus terbakar sepanjang musim kemarau ini.

Meski angka luasan tersebut cukup mengkhawatirkan, kerja keras tim gabungan di lapangan mulai membuahkan hasil positif. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memastikan bahwa sebagian besar kobaran api telah berhasil dijinakkan.

“Kami sudah memadamkan sekitar 71 ribu hektare. Tinggal sebagian kecil yang masih terus ditangani,” ungkap Suharyanto menegaskan progres penanganan di lapangan.

Menaklukkan api di lahan gambut diakui bukanlah perkara sederhana. Karakteristik lahan ini membuat api tidak hanya melahap vegetasi di permukaan, tetapi juga menjalar secara diam-diam di bawah tanah. Kondisi ekstrem inilah yang membuat titik api sulit dideteksi dan sangat rentan menyala kembali jika tidak ditangani hingga tuntas.

Menyiasati hal tersebut, BNPB menerapkan strategi operasi ganda yang memadukan serangan dari udara dan darat. Kendati helikopter water bombing terus mengudara, Suharyanto menegaskan bahwa personel Satuan Tugas (Satgas) Darat tetap memegang peranan paling vital.

“Satgas Darat menjadi tumpuan utama karena kebakaran gambut tidak bisa hanya mengandalkan water bombing dari udara,” jelasnya.

Sebagai langkah dukungan strategis, pemerintah juga menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Teknologi ini difokuskan pada sejumlah wilayah prioritas guna memancing hujan buatan yang sangat krusial untuk mempercepat pembasahan hamparan gambut yang mengering.

Fokus penanganan karhutla saat ini masih dipusatkan pada enam provinsi yang memiliki hamparan gambut terluas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Patroli udara, pemantauan titik panas (hotspot), hingga proses pendinginan area terus dilakukan tanpa henti.

Suharyanto kembali mengingatkan jajarannya bahwa indikator keberhasilan pemadaman gambut bukan sekadar hilangnya asap di permukaan, melainkan harus dipastikan bahwa lapisan bawah tanah benar-benar dingin.

Sebagai penutup, pemerintah mengimbau keras seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar. Warga juga diminta proaktif dan segera melapor apabila menemukan titik api sekecil apa pun guna mencegah karhutla meluas di puncak musim kemarau ini. (Chy)