Sultanews, Jambi – Hujan alami yang mengguyur sejumlah wilayah Jambi dalam beberapa hari terakhir membawa angin segar bagi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Titik api di kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) dilaporkan mulai mengalami penurunan yang signifikan.
Kepala Balai TN Berbak dan Sembilang, Yunaidi, menyebutkan bahwa guyuran hujan berhasil memadamkan sejumlah hotspot yang sebelumnya sangat sulit dikendalikan. Meski demikian, kepulan asap masih terlihat di beberapa titik kawasan yang didominasi oleh lahan gambut tersebut.
“Ini cukup menggembirakan bagi kami. Walaupun di lapangan masih ada asap, beberapa hotspot yang sulit dipadamkan otomatis padam dengan turunnya hujan kemarin,” ungkap Yunaidi, Kamis (24/9/2026).
Ia menekankan bahwa hilangnya api di permukaan tidak serta-merta menandakan kawasan TNBS terbebas dari ancaman. Karakteristik lahan gambut menuntut kewaspadaan ekstra karena bara api sangat mungkin bertahan di lapisan bawah tanah dan berpotensi memicu kebakaran susulan jika tidak ditangani hingga tuntas.
Menurut Yunaidi, proses pendinginan lahan gambut membutuhkan waktu yang tidak sebentar, bahkan bisa memakan waktu hingga 13 hari berturut-turut. Saat ini, tim di lapangan tetap disiagakan untuk melanjutkan pemantauan ketat terhadap 11 hotspot yang masih terdeteksi guna memastikan kawasan benar-benar aman.
Di sisi lain, fenomena hujan yang meredam amuk api di Jambi dipastikan murni berasal dari proses alam. Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun BMKG Jambi, Jaya Martua Sinaga, mengonfirmasi bahwa curah hujan tersebut bukanlah hasil dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
“Hujan yang terjadi di Jambi ini merupakan hujan alami. Memang ada proses pertumbuhan awan hujan di wilayah Jambi yang menghasilkan hujan,” jelas Jaya.
Hujan alami ini tidak hanya membasahi hamparan vegetasi, tetapi juga berhasil menipiskan kabut pekat yang sempat menyelimuti udara Jambi. Kendati kondisi lingkungan mulai membaik, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk tidak lengah. Intensitas hujan yang belum merata di tengah musim kemarau menyisakan potensi ancaman karhutla yang sewaktu-waktu dapat kembali membesar. (Chy)


